Membahas tentang perniagaan yang tidak mendatangkan kerugian, KH. Sholeh Asri dalam kajian Zuhur di Masjid Istiqlal, menyampaikan tausiyah yang merujuk pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Qs. Fatir ayat 29–30. Allah Ta’ala berfirman,
اِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتٰبَ اللّٰهِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً يَّرْجُوْنَ تِجَارَةً لَّنْ تَبُوْرَۙ٢٩ لِيُوَفِّيَهُمْ اُجُوْرَهُمْ وَيَزِيْدَهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖۗ اِنَّهٗ غَفُوْرٌ شَكُوْرٌ٣٠
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an), menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah rugi, (Demikian itu) agar Allah menyempurnakan pahala mereka dan menambah karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”. (Qs.
Ayat ini ingin menginformasikan mengenai sebuah tijarah, sebuah transaksi, perniagaan yang tidak akan pernah rugi selama-lamanya. Dalam transaksi sehari, dalam perdagangan baik di pasar, baik online dan sebagainya.
Dalam kehidupan sehari-hari, setiap transaksi selalu berpotensi untung atau rugi. Demikianlah sunnatullah dalam kehidupan dunia. Namun Al-Qur’an menghadirkan kabar gembira tentang satu jenis “tijarah” yang tidak akan pernah merugi: تجارة لن تبور
Ayat ini menyebutkan tiga amalan utama sebagai fondasi perniagaan tersebut:
1. Senantiasa Membaca Al-Qur’an
Allah menggunakan kata yatluna fi’il mudhari’ yang menunjukkan kontinuitas, artinya membaca Al-Qur’an secara terus-menerus, bukan sesekali. Ramadhan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an menjadi momentum terbaik untuk menghidupkan tilawah.
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
Artinya: “Bacalah Al-Qur'an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafaat (penolong) bagi para pembacanya (sahabatnya).” (HR. Muslim)
Bahkan satu huruf yang dibaca bernilai satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Tidak ada kerugian dalam membaca Al-Qur’an. Bagi yang mahir, ia bersama para malaikat yang mulia. Bagi yang terbata-bata, ia mendapat dua pahala: pahala membaca dan pahala berusaha.
Inilah investasi akhirat yang pasti menguntungkan.
2. Menegakkan Salat
Frasa wa aqiimush shalah (وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ) menunjukkan bukan sekadar melaksanakan, tetapi menegakkan shalat dengan benar, menjaga rukun, syarat, serta ke khusyukannya.
Shalat adalah amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat. Jika shalatnya baik, maka amalan lainnya pun akan baik. Terlebih di bulan Ramadhan, pahala dilipatgandakan. Shalat berjamaah memiliki keutamaan dua puluh tujuh derajat dibanding shalat sendirian.
Puasa di siang hari menghapus dosa-dosa siang, dan qiyam Ramadhan termasuk salat tarawih menghapus dosa malam hari, sebagaimana sabda Rasulullah alaihi salam:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Ramadan menjadi madrasah pembinaan ruhani, setan dibelenggu, peluang pahala dibuka lebar, dan bonus amal dilipatgandakan.
3. Menginfakkan Rezeki
Allah subhanahu wata'ala memerintahkan agar sebagian rezeki yang dianugerahkan diinfakkan, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Infak bukanlah pengurang harta, melainkan penambah keberkahan.
Sekecil apa pun yang dikeluarkan di jalan Allah, nilainya besar di sisi-Nya. Terlebih di bulan Ramadhan, pahala infak dilipatgandakan. Inilah bentuk ketakwaan sosial, menghadirkan manfaat bagi sesama, menyiapkan hidangan berbuka, menunaikan zakat, atau membantu mereka yang membutuhkan.
Ungkapan لن تبور menggunakan kata لن yang menunjukkan penegasan bahwa kerugian itu tidak akan pernah terjadi, selama-lamanya. Bahkan Allah Swt menjanjikan dua hal:
لِيُوَفِّيَهُمْ اُجُوْرَهُمْ وَيَزِيْدَهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖۗ اِنَّهٗ غَفُوْرٌ شَكُوْرٌ
Artinya: “(Demikian itu) agar Allah menyempurnakan pahala mereka dan menambah karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”. (Qs. Fatir: [35]: 30)
Ramadan adalah momentum emas untuk mengaplikasikan tiga amalan ini secara simultan, tilawah Al-Qur’an, menjaga salat, dan memperbanyak infak. Inilah formula Qur’ani menuju perniagaan yang tidak pernah merugi.
Di tengah dinamika kehidupan yang penuh risiko, Allah menawarkan transaksi yang pasti untung. Tidak fluktuatif, tidak spekulatif, dan tidak tergerus waktu.
Kajian ditutup dengan sama-sama memohon semoga termasuk dalam golongan yang menghidupkan Al-Qur’an dalam keseharian, menegakkan salat dengan penuh kesadaran, serta gemar berinfak di jalan Allah. Sehingga ketika Ramadan usai, kita kembali dalam keadaan bersih, seperti bayi yang baru dilahirkan.
اِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتٰبَ اللّٰهِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً يَّرْجُوْنَ تِجَارَةً لَّنْ تَبُوْرَۙ٢٩ لِيُوَفِّيَهُمْ اُجُوْرَهُمْ وَيَزِيْدَهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖۗ اِنَّهٗ غَفُوْرٌ شَكُوْرٌ٣٠
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an), menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah rugi, (Demikian itu) agar Allah menyempurnakan pahala mereka dan menambah karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”. (Qs.
Ayat ini ingin menginformasikan mengenai sebuah tijarah, sebuah transaksi, perniagaan yang tidak akan pernah rugi selama-lamanya. Dalam transaksi sehari, dalam perdagangan baik di pasar, baik online dan sebagainya.
Dalam kehidupan sehari-hari, setiap transaksi selalu berpotensi untung atau rugi. Demikianlah sunnatullah dalam kehidupan dunia. Namun Al-Qur’an menghadirkan kabar gembira tentang satu jenis “tijarah” yang tidak akan pernah merugi: تجارة لن تبور
Ayat ini menyebutkan tiga amalan utama sebagai fondasi perniagaan tersebut:
1. Senantiasa Membaca Al-Qur’an
Allah menggunakan kata yatluna fi’il mudhari’ yang menunjukkan kontinuitas, artinya membaca Al-Qur’an secara terus-menerus, bukan sesekali. Ramadhan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an menjadi momentum terbaik untuk menghidupkan tilawah.
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
Artinya: “Bacalah Al-Qur'an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafaat (penolong) bagi para pembacanya (sahabatnya).” (HR. Muslim)
Bahkan satu huruf yang dibaca bernilai satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Tidak ada kerugian dalam membaca Al-Qur’an. Bagi yang mahir, ia bersama para malaikat yang mulia. Bagi yang terbata-bata, ia mendapat dua pahala: pahala membaca dan pahala berusaha.
Inilah investasi akhirat yang pasti menguntungkan.
2. Menegakkan Salat
Frasa wa aqiimush shalah (وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ) menunjukkan bukan sekadar melaksanakan, tetapi menegakkan shalat dengan benar, menjaga rukun, syarat, serta ke khusyukannya.
Shalat adalah amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat. Jika shalatnya baik, maka amalan lainnya pun akan baik. Terlebih di bulan Ramadhan, pahala dilipatgandakan. Shalat berjamaah memiliki keutamaan dua puluh tujuh derajat dibanding shalat sendirian.
Puasa di siang hari menghapus dosa-dosa siang, dan qiyam Ramadhan termasuk salat tarawih menghapus dosa malam hari, sebagaimana sabda Rasulullah alaihi salam:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Ramadan menjadi madrasah pembinaan ruhani, setan dibelenggu, peluang pahala dibuka lebar, dan bonus amal dilipatgandakan.
3. Menginfakkan Rezeki
Allah subhanahu wata'ala memerintahkan agar sebagian rezeki yang dianugerahkan diinfakkan, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Infak bukanlah pengurang harta, melainkan penambah keberkahan.
Sekecil apa pun yang dikeluarkan di jalan Allah, nilainya besar di sisi-Nya. Terlebih di bulan Ramadhan, pahala infak dilipatgandakan. Inilah bentuk ketakwaan sosial, menghadirkan manfaat bagi sesama, menyiapkan hidangan berbuka, menunaikan zakat, atau membantu mereka yang membutuhkan.
Ungkapan لن تبور menggunakan kata لن yang menunjukkan penegasan bahwa kerugian itu tidak akan pernah terjadi, selama-lamanya. Bahkan Allah Swt menjanjikan dua hal:
لِيُوَفِّيَهُمْ اُجُوْرَهُمْ وَيَزِيْدَهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖۗ اِنَّهٗ غَفُوْرٌ شَكُوْرٌ
Artinya: “(Demikian itu) agar Allah menyempurnakan pahala mereka dan menambah karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”. (Qs. Fatir: [35]: 30)
Ramadan adalah momentum emas untuk mengaplikasikan tiga amalan ini secara simultan, tilawah Al-Qur’an, menjaga salat, dan memperbanyak infak. Inilah formula Qur’ani menuju perniagaan yang tidak pernah merugi.
Di tengah dinamika kehidupan yang penuh risiko, Allah menawarkan transaksi yang pasti untung. Tidak fluktuatif, tidak spekulatif, dan tidak tergerus waktu.
Kajian ditutup dengan sama-sama memohon semoga termasuk dalam golongan yang menghidupkan Al-Qur’an dalam keseharian, menegakkan salat dengan penuh kesadaran, serta gemar berinfak di jalan Allah. Sehingga ketika Ramadan usai, kita kembali dalam keadaan bersih, seperti bayi yang baru dilahirkan.