Beranda / Artikel / Detail

Mencegah Kemungkaran dengan Shalat

Pada peristiwa Isra Mi’raj digambarkan bahwa semua para Nabi alaihis salam 'turun' ke bumi Palestina untuk melaksanakan shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Masjidilaqsa.

Mereka bershaf-shaf berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi yang terakhir. Kalau dilihat lebih mendalam, betapa hebat ajaran Islam yang bisa mempresentasikan (arwah) orang sudah meninggal hingga bisa berjumpa dengan yang masih hidup. Pada kejadian selanjutnya para Nabi alaihis salam yang berada di langit satu, dua, hingga ke tujuh semuanya memperkuat misi Kenabian akhir zaman.

Begitu berat tugas Nabi yang sedang manggung dalam menjalankan misi dakwahnya. Perjumpaan dengan ruhani merupakan seperti Isra Mi’raj adalah kenikmatan yang luar biasa bagi para Nabi alaihis salam.

Shalat merupakan ibadah yang istimewa dari sekian ibadah, karena perintahnya diambil langsung ke langit. Perintah shalat terasa agung sehingga pada hari kiamat setiap orang akan ditanya pertama kali (dihisab) tentang shalatnya. Jika baik shalatnya maka akan baik seluruh amalnya, dan jika buruk maka buruk pula seluruh amalnya.

Shalat yang benar secara fiqih (sesuai aturan) dan tasawuf (ikhlas dan khusyu) akan menjadi benteng diri pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar, tanhā anil fahsyā-i wal munkar (fahsyā [perbuatan jahat yang berimbas kepada dirinya saja] dan munkar [perbuatan jahat yang berimbas kepada orang lain]). Shalat yang sesuai aturan akan berefek kepada seluruh lini kehidupannya.


Shalat merupakan sarana yang dapat menghubungkan hati kepada Allah SWT. Dalam shalat kita diajarkan bagaimana merendahkan diri di hadapan Allah SWT. Dengan memposisikan kaki dan kepala sama rendah, merasakan kenikmatan sujud. Betapa rendahnya kita sebagai hamba dan betapa Agungnya Allah SWT sebagai Pencipta.

Shalat berjamaah juga mengajarkan arti kepemimpinan yang satu, di mana setiap geraknya diikuti, setiap doa diamini. Tidak boleh makmum mendahului gerakan imam. Kedudukannya semua sama di sisi Allah SWT. Tidak ada perbedaan petani, pedagang, pengusaha, atau seorang jenderal.

Hadirin Rahimakumullah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah teladan dalam berbagai persoalan dan ibadah termasuk shalat. Berkenaan dengan shalat, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya agar shalat sebagaimana beliau shalat. Umat bukan diperintahkan hanya melihat aspek zahir shalat, tapi juga aspek batinnya.

Ittiba' (mengikuti) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bukan hanya aspek fiqih semata, tapi juga hatinya dalam melaksanakannya. Bukan hanya mengikuti tindakan saja tapi juga batinnya. Ketiga rukun hadir dalam pelaksanaan ibadah shalat. Dikisahkan dalam beberapa keterangan atau ayat tentang kondisi batin beliau dan orang-orang shaleh, di antaranya pada firman Allah SWT dalam QS. Maryam ayat 58, yang artinya:

Artinya: “Apabila dibacakan Ayat-ayat Allah SWT Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka tersungkur sujud dan menangis” (QS. Maryam/19 : 58)

Kemudian juga, dari Abdullah bin Syikhir, dia berkata, “aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat sambil menangis terisak-isak seakan-akan di dalam badannya terdapat suara air mendidih” (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasai, Tirmidzi).

Ali berkata, “ketika terjadi perang Badar, tidak seorangpun yang piawai mengendarai kuda selain Miqdad bin Aswad. Setelah aku perhatikan, tidak ada seorang pun di kalangan kami yang bangun malam untuk shalat selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau berada di bawah sebatang pohon dan shalat sambil menangis hingga pagi” (HR. Ibnu Hibban).


Selain itu, para Sahabat radhiallahu anhu juga merupakan figur teladan dalam shalat. Allah SWT memujinya dalam firman-Nya, yaitu pada QS. An-Nur ayat 37, yang artinya:

Artinya: “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah SWT, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. An-Nur: 37).

Di kala berbisnis atau berniaga tidak melupakan Allah SWT. Di luar shalat pun tidak melupakan dzikir kepada-Nya. Di luar masjid mereka tidak lupa. Bisa dibayangkan bagaimana ketika berada di luar shalat.

Hadirin Rahimakumullah.
Kehidupan selalu disertai ujian dan cobaan. Tidak selamanya laut itu tenang, tapi suatu ketika ia bisa saja membawa badai besar yang dapat memporakporandakan perahu kita. Allah subhanahu wata'ala memberikan kita tips untuk menghadapinya, yaitu hadapi dengan wasta’inū bish shabri wash shalāh (sabar dan shalat), dengan melaksanakan shalat lima waktu ditambah dengan sunnah Tahajud.

Shalat membutuhkan hati yang tenang, karena harus menghadirkan Allah SWT dalam hati dan menyingkirkan urusan lain selain-Nya. Shalat adalah media untuk mengingat Allah SWT. Dengan mengingat Allah SWT hati menjadi tenang. Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Ra'd ayat 28, yang artinya:

Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Ketika menghadapi persoalan yang membuat gelisah atau terdapat ujian yang berat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat untuk membuatnya lebih rileks. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyak shalat. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam terkadang memerintahkan, Arihnā bish-shalah! (Wahai Bilal, relaksasikan aku dengan shalat!).

Shalat berfungsi sebagai relaksasi karena shalat Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berfungsi. Adapun pada orang yang malas melakukan shalat di kala dirundung masalah ialah karena shalatnya tidak berfungsi.

Hadirin Rahimakumullah.
Setiap ibadah memiliki dua sisi, aspek zahir dan batin. Shalat subuh ada aspek zahirnya. Ilmu fiqih yang membimbing teori atau madzhab yang menjadi produknya. Tidak cukup shalat hanya mengikuti bimbingan fiqihnya saja, kita tetap membutuhkan aspek batin yaitu berupa kekhusyū’an.

Dalam kitab Al-Ghunyah karangan Syekh Abdul Qadir al-Jailani menyebutkan bahwa khusyu adalah bagian dari syarat shalat, demikian pula Imam Al-Ghazali, berbeda dengan Madzhab Syafi'i. Jadi kalau tidak khusyu maka tidak sah shalatnya karena hilang satu syaratnya.

Maksudnya bagi yang belum khusyu’ shalatnya harus ditingkatkan bukan ditinggalkan. Agar shalatnya menjadi nikmat, sujudnya nikmat, maka hatinya juga harus khusyu. Orang yang khusyu berarti hadir hatinya. Maksud hadir hati dalam shalat adalah hati ikut hadir menghadap kepada Allah SWT dan bersama-Nya. Hati yang ghaib tidak dihitung shalat di sisi Allah SWT. Allah subhanahu wata'ala mengingatkan dalam firman-Nya pada QS. Al Maun ayat 4 sampai 5, yang artinya:

Artinya: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya” (QS. Al-Ma’un : 4-5).

Menurut Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari, cahaya ada yang masuk ke dalam hati (dukhūlun fi al-qalb) dan ada yang mantul kembali (wushūlun fi al-qalb). Cahaya yang mantul membuat efek shalat dan dzikir tidak terbawa ke luar masjid. Rajin shalat tapi tetap maksiat. Adapun cahaya yang masuk kemudian meresap ke dalam hati membuat dada lapang dan pikiran cerah.

Hadirin Rahimakumullah.
Ada dua perjalanan yang harus dilalui supaya seseorang mencapai hakikat. Kalau dalam batin masih pahit dalam menjalankan ibadah, itu artinya belum mencapai hakikat. Imam Nawawi Al-Bantani dalam kitab Salālim al Fudhalā menyatakan bahwa untuk mencapai hakikat ada 2 (dua), jalan syariat (mengamalkan fiqih) dan thariqah (mengamalkan tasawuf). Ketika keduanya dijalankan maka tercapailah hakikat.

Sesungguhnya proses Isra Mi’raj itu gambaran 2 (dua) jalan. Isra adalah menjalankan syariat, Mi’raj adalah menjalankan thariqah, dan Ru’yatullah adalah gambaran tercapainya hakikat. Jika seorang mukmin ingin meraih hakikat maka jalankan proses Isra Mi’raj tadi, yakni dengan menjalankan syariat (fiqih) dan thariqah (tasawuf).

Tanda Telah Mendapatkan Hakikat

1. Riqqatul hijāb bainal Abdi war Rabbih. Tipisnya hijab antara hamba dengan Allah SWT. Ketika sendirian ia merasakan yang keduanya adalah Allah SWT. Inilah makna Ihsan.

2. Takhliyyatun nafs. Dibersihkan jiwa.

3. Tash-hiluth tha’ah wal ibadah. Dimudahkan taat dan ibadah kepada Allah SWT.

Ilmu tasawuf adalah bagian dari rukun agama di samping ilmu tauhid dan fiqih. Ilmu tasawuf menjadi ruh bagi ilmu tauhid dan fiqih. Bahkan menjadi ruh bagi agama. Ilmu tasawuf itu yang menjadi ruh dari syariat dan agama. Tidak mengamalkan berarti tidak memiliki ruh. Shalat tanpa kehadiran hati bagaikan robot.

Belajar Sifat Allah SWT yang 20 (Wujud, Qidam, Baqa, dst) tanpa ilmu tasawuf, maka ilmu tauhid hanya sebatas ilmu dalam selembar kertas. Belajar tauhid harus tersambung kepada Allah SWT.

Hadirin Rahimakumullah.
Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari menyatakan, hikmah shalat adalah:

Artinya: “Shalat berfungsi membersihkan hati dari kotoran-kotoran dosa dan pembuka pintu kegaiban.”


1. Shalat adalah pembersih (penyuci) hati dari kotoran-kotoran dosa. Setelah ayat pertama yang diterima oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah perintah qiyamul lail (shalat malam). Perintah shalat merupakan bentuk ibadah yang bersifat khusus, ada syarat dan rukunnya.

2. Shalat adalah kunci pembuka pintu keghaiban. Banyak misteri-misteri dalam kehidupan ini. Kalau shalat ditegakkan maka Allah SWT bukakan sebagian dari rahasia-Nya bagi yang menjalankannya dengan benar. Allah SWT akan menginformasikan sesuatu yang rahasia.

Kematian adalah salah satu misteri keghaiban dalam kehidupan ini. Rahasia keghaiban dibukakan bagi orang yang dikehendaki. Shalat sunnah berjamaah adalah cahaya di atas cahaya. Tujuannya adalah untuk memberikan bimbingan.

3. Shalat itu media bermunajat kepada Allah SWT. Munajat maknanya curhat atau berbisik-bisik kepada Allah SWT. Maka dalam setiap rakaat diwajibkan membaca surat Al-Fatihah, karena isinya adalah munajat kepada Allah SWT.

Saat shalat hati harus benar-benar menghadap kepada Allah SWT dan khusyū’. Shalat adalah sumber penyucian, di mana hati 'dicuci' oleh Allah subhanahu wata'ala. Di dalam shalat Allah SWT luaskan medan atau lapangan rahasia-rahasia-Nya, dan terbit di dalam shalat itu cahaya-cahaya Allah subhanahu wata'ala. Terbitnya cahaya Allah SWT itu di dalam hati. Hati membutuhkan cahaya dan ia akan terbit, salah satunya lewat shalat.

Hadirin Rahimakumullah.
Mungkin shalat ini menjadi PR bagi semua, karena bagaimanapun koneksi (hubungan) hamba dengan Allah SWT harus terperlihara dan terjalin dengan baik. Manakala hubungan itu terputus, shalat sebagai media komunikasi menjadi tidak berfungsi maka musibah demi musibah, masalah demi masalah akan terus mendera tak kunjung putus.

Seusai shalat marilah kita juga berdoa kepada Allah SWT,

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ࣖ

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orangorang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Penyayang” (QS. Al-Hasyr: 10).

Pesan moral dari doa tersebut adalah sifat kedengkian dan keegoan harus dipupus. Kedua sifat tersebut adalah warisan Iblis kepada manusia, kedengkian dan keegoan merupakan asal muasal angkara murka dan menyebabkan malapetaka di dunia ini. Karena keduanya, persatuan dan kebersamaan umat sulit diwujudkan.

Dengan mendoakan orang beriman terdahulu sampai Nabi Adam alaihis salam kita pun akan meraih pahala dan keutamaan yang bermanfaat untuk mereka dan diri kita. Shalat yang sukses dalam kaca mata batin adalah ketika bisa mencegah dari perbuatan keji dan munkar, baik untuk dirinya maupun orang lain. Karena aspek zahir mapun batinnya terpenuhi, maka dampak setelah shalatpun juga nyata, mampu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.
BAGIKAN:
WhatsApp Facebook